USER NAME WIFI.ID GRATISS (FREE)

Monday, 4 May 2015
Posted by gumilar cahyadi
Buat kalian pengguna Wifi Id pasti bingung untuk mendapatkan username dan password secara gratis. Memang untuk saat ini untuk menikmati layanan ini kita harus membeli paketan untuk bisa mengakses wifi id dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi buat kalian yang tidak mau mengeluarkan uang untuk membeli paketan, di sini akan saya share cara mendapatkan username wifi id secara gratis dengan menggunakan layanan hallo star. Hanya dengan daftar kelayanan ini kalian bisa mengakses Wifi Id secara gratis dengan kecepatan tinggi dan unlimited tentunya.
 
Sekarang langsung saja ke cara mendapatkan username wifi id secara gratis dengan menggunakan layanan Hallo Star :

1. Pertama kalian sambungan ke @wifi.id

2. Setelah konek ke wifi.id sekarang masuk ke halaman DISINI 

3. Setelah anda berada dihalaman Login Free Wifi Hallo Star silahkan anda klik disini untuk mendaftar ( lihat gambar dibawah ) . Meskipun ada tulisan akses gratis @wifiid selama 2 jam tapi sebenarnya setelah 2 jam habis kita bisa buat lagi dengan cara yang sama

4. Selanjutnya silahklan daftar dengan mengisi form yang telah disediakan

5. Jika anda berhasil akan muncul halaman sukses login  Hallo Star

Keterangan :

1. Satu akun yang anda buat hanya bisa dipakai sekali setelah di daftarkan dan jangka waktu 2 jam
2. Setelah 2 jam akun Expired anda bisa mendaftar lagi dengan user berbeda
3. Speed Wuss ga kalah sama orang yang login menggunakan Speedy Instan
4. Faktor keberhasilan adalah nickname , gunakan kombinasi huruf dan angka misal delhendro34343

Demikian cara mendapatkan username wifi id secara gratis dengan memanfaatkan layanan Hallo Star. Semoga artikel ini mampu mengganti yang sedang mencari username dan password wifi id yang semakin susah dan harus bayar untuk berlangganan. Gunakan internet gratis untuk kegiatan browsing yang positif.
Monday, 18 August 2014
Posted by gumilar cahyadi
Tag :
Pemahaman dan penguasaan yang baik tentang kamera ditangan kita adalah hal yang penting untuk menghasilkan foto yang baik bagus. kamera adalah tools yg digunakan untuk merekam moment. jangan sampai moment itu terbuang hanya karena kita tidak menguasai kamera kita. hasil2 foto yg “gagal” seperti blur, terlalu gelap, atau terlalu terang dll bisa kita hindari dengan kita betul2 memahami cara kerja kamera yg kita miliki.
belajar memahami kamera tidak akan terlalu lama dibanding memahami bagaimana menghasilkan foto yang baik. dalam posting ini saya coba jabarkan singkat tentang apa saja yg mutlak harus dipahami dari sebuah kamera agar bisa terhindar dari kegagalan2 dalam memotret.
Sengaja saya membahas khusus kamera DSLR, karena kamera ini sekarang sangat banyak digunakan. dan bahasan ini ditujukan kepada teman2 yg bener2 awam tentang prinsip kerja kamera.
saya mulai dengan menjelaskan apa itu DSLR? DSLR singkatan dari Digital Single Lens Reflex. jenis kamera ini terdiri dari body kamera dan lensa yg bisa dilepas dari bodynya. coba pegang kamera DSLR anda dan tekan shutternya, maka akan terdengan suara “trek-trek”. itu adalah suara mirror yg bergerak naik dan turun lagi. mirror adalah menjadi kekhasan kamera DSLR. terletak didalam body kamera dgn posisi persis dibelakang lensa yang gunanya untuk memantulkan cahaya yg dibiaskan lensa menuju ke viewfinder kamera sehingga kita bisa melihat objek foto kita langsung melalui lensa.


mirror tersebut digerakkan secara mekanis sehingga pada saat kita menekan tombol shutter maka mirror itu naik keatas dan cahaya yg dibiaskan lensa tadi tidak lagi terpantul oleh mirror tersebut tetapi menerus ke sensor yg terletak dibelakang mirror untuk direkam. yah that’s it, itulah cara kerja yg paling mendasar dari sebuah kamera DSLR.
udah cuma itu? tentu belum. masih banyak hal lain yg harus kita pahami. mari kita lihat setting apa aja yg mendasar dan mutlak harus betul-betul dikuasai untuk mendapatkan hasil foto yang baik bagus.

Shutter Speed
coba perhatikan setting kamera anda. ada angka2 tertulis seperti 1/125, 1/100 dll. itu adalah angka shutter speed. apa itu shutter? shutter adalah semacam “tirai” yang dapat membuka dan menutup yg gunanya menghalangi/mengatur tersentuhnya sensor oleh cahaya. sedangkan shutter speed adalah skala waktu (dalam detik) yg menunjukan berapa lama shutter terbuka dan tertutup kembali (lamanya sensor terkena cahaya). cth : 1/125 = shutter membuka-menutup dalam waktu 1/125 detik.
makin lambat shutter speed maka makin banyak cahaya yg terekam oleh sensor hasilnya hasil foto makin terang. begitu pula sebaliknya. dalam suatu kamera, shutter speed bervariasi dan berbeda satu dan lain kamera. kamera saya memiliki rentang dari yg terlambat 30 detik sampai tercepat 1/8000 detik.
bagaimana mensetting shutter speed yg benar? itu tergantung kita mau motret apa. utk lebih jelasnya bisa dibaca dalam posting saya berikutnya tentang shutter speed setting
Aperture
perhatikan setting kamera anda, anda akan menemukan angka-angka seperti F5,6 ; F4,5 ; F2,8 dll. angka2 itu adalah disebut angka aperture atau diafragma.
sekarang coba intip kedalam lensa kamera anda. ada lubang kecil ditengah lensa. nah itulah diafragma. seperti shutter yg mengontrol sinar yg menuju ke sensor. diafragma juga mengontrol sinar yg masuk kedalam kamera sejak dari dalam lensa dengan cara membentuk lubang kecil untuk membatasi cahaya. ukuran lubang itu berbeda2 tergantung angka setting yg kita gunakan.

harap diperhatikan yg sering bikin bingung temen2 yg baru belajar adalah bahwa angka misalnya f/2.8 adalah lebih kecil dari f/1.4, atau f/2 adalah lebih besar dari f/4 dan begitu seterusnya. perhatikan tanda (/)
kombinasi antara shutter speed dan besar kecilnya diafragma atau “aperture stop”  menghasilkan foto dengan pencahayaan yang tepat.
Bagaimana cara setting diafragma yg tepat? itu tergantung objek yg akan kita foto. utk lebih jelasnya bisa dibaca dalam posting saya berikutnya tentang aperture setting.
ISO Speed
Pada kamera digital dikenal istilah ISO speed. ISO speed adalah ukuran sensitifitas image sensor terhadap cahaya. makin besar angkanya makin sensitif image sensor, dan makin terang hasil foto kita. tetapi hati-hati karena hasil gambarnya pun makin grainy atau noise. kamera DSLR biasanya memiliki ISO speed antara ISO 100 sampai ISO 12800 bahkan lebih besar lagi. untuk kualitas image sensor yg ada saat ini, maka saya tidak sarankan untuk menggunakan ISO speed terlalu besar kecuali kepepet. usahakan sebisanya menggunakan setting ISO speed paling rendah yg masih mungkin untuk menghindari noise pada hasil foto.
kombinasi antara shutter speed, aperture stop, dan ISO speed menghasilkan foto dengan pencahayaan yg tepat dalam berbagai kondisi objek.
Demikian tiga hal mendasar dalam setting kamera yg perlu untuk betul2 diperhatikan.  dengan menguasai ketiga hal tersebut maka bisa dihindari kegagalan dalam memotret seperti disebut diatas, yaitu foto yg blur, terlalu gelap atau terlalu terang.

Jenis Lensa Kamera DSLR & SLR

Posted by gumilar cahyadi
Tag :
Dalam dunia fotografi ada berbagai jenis lensa untuk kamera digital. Setiap jenis lensa memiliki keistimewaan untuk mengambil sebuah gambar dan memberikan efek serta karakteristik masing-masing yang dapat di sesuaikan dengan kebutuhan fotografer.



Apa saja jenis-jenis lensa kamera yang ada di pasaran yang biasa digunakan untuk ‘menggambar dengan cahaya’ itu? Berikut berbagai jenis-jenis lensa dan kegunaannya :

Daftar Jenis Lensa Kamera DSLR & SLR

1. Lensa Kit (standar/normal)
Lensa kita juga disebut lensa normal yang biasanya sebagai lensa bawaan dari pabrik ketika membeli kamera gitial. Sebuah lensa dikategorikan sebagai lensa KIT/normal jika memiliki focal length yang setara dengan diagonal gambar yang diproyeksikan didalam sensor kamera. Lensa standar adalah lensa yang menghasilkan gambar dengan perspektif lebih natural jika dibandingkan dengan lensa jenis lain.
Hasil gambar yang dihasilkan dari lensa kit/normal/standard tidak akan beda jauh dengan apa yang dilihat oleh mata. sebuah lensa yang memetakan citra yang nampak seperti perspektif pandang normal mata manusia. Pemetaan perspektif tersebut didapat karena panjang fokus lensa sebanding dengan jarak diagonal bidang fokal dengan sudut pandang diagonal sekitar 53 derajat.
2. Lensa Wide Angle (Lensa Sudut Lebar)
Lensa wide ini kadang-kadang disebut juga sebagai lensa lebar. Seperti namanya lensa ini memiliki sudut pandang yang sangat lebar, bahkan pada beberapa lensa dapat memberikan sudut pandang mendekati 180 derajat. Karakter lensa wide ini adalah membuat subjek lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Lensa jenis wide ini dapat digunakan untuk memotret subjek yang luas dalam ruang sempit.
Dengan lensa wide ini, kita dpat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengna lensa kit (standar) di dalam ruangan. Lensa sudut lebar dengan panjang fokus yang lebih pendek akan memproyeksikan lingkaran citra yang lebih besar ke bidang fokal. UKuran lensa ini beragam mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm dan 35 mm.
Catatan lainnya, lensa sudut lebar ini tidak menghasilkan gambar sesuai dengan yang ditangkap oleh mata manusia, sebaliknya lensa ini memberikan kesan ‘lebih’ dari keadaan sebenarnya. Ruangan dapat terlihat ‘lebih’ tinggi, ‘lebih’ besar atau ‘lebih’ lebar dari ukuran sebenarnya.
3. Lensa Tele
jenis lensa tele merupakan kebalikan dari lensa Wide Angle, terkenal akan kemampuannya untuk memperbesar obyek yang jauh, dan menghasilkan gambar yang tidak terdistorsi. Fungsi lensa tele sendiri untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Lensa ini digunakan oleh fotografer unutk untuk memotret objek dari jarak jauh, seperti foto candid atau landscape.
4. Lensa Zoom
Lensa xoom merupakan gabungan antara lensa standar, lensa wide angle dan lensa tele. Lensa zoom adalah lensa yang tidak dapat mempertahankan bidang fokus pada saat terjadi perubahan panjang fokus karena posisi bidang fokal juga ikut tergeser, sehingga diperlukan pemfokusan ulang setiap terjadi perubahan panjang fokus. Lensa ini dirancang untuk memiliki beberapa sudut pandang yang berbeda. Terdapat berbagai macam lensa zoom, mulai dari 2x zoom, 3x zoom (70-200mm), 10x zoom (35-350mm) sampai dengan 12x zoom.
Beberapa contoh jenis lensa zoom merupakan lensa telephoto (200-400mm), beberapa yang lain merupakan lensa wide-angle (10-20mm, 16-25mm) dan sisanya mencakup wide-angle sampai telephoto (28-200mm, 35-135mm). Lensa pada kategori terakhir sering disebut sebagai lensa zoom ‘normal’ dan telah menggantikan lensa primer sebagai solusi penggunaan satu lensa untuk berbagai kondisi.
5. Lensa Super Zoom
Lensa superzoom (en:superzoom lens, hyperzoom lens) adalah lensa fotografi dengan faktor panjang fokus (en:focal length factor) yang sangat besar, lebih besar dari 4x. Faktor panjang fokus dapat berkisar hingga 15x zoom pada kamera refleks lensa tunggal dan 26x pada kamera digital, hingga 100x pada kamera televisi profesional.
6. Lensa Fish Eye [Lensa mata ikan]
Lensa Fish Eye merupakan lensa Wide Angle dengan kelebaran sudut pandang yang ekstrim misalnya diameter 14 mm, 15 mm, 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan dari lensa ini akan cenderung melengkung, terdistorsi menjadi oval dan terlihat seperti gepeng. Area penglihatannya melebihi 100 derajat, atau bahkan kadang-kadang melampaui 180 derajat sehingga menghasilkan gambar-gambar dengan tingkat distorsi yang tinggi. Ruang tajamnya secara otomatis tidak terbatas dan pengaturan fokus kamera tidak terlalu diperlukan.
7. Lensa Makro
Lensa makro merupakan lensa yang didesain khusus untuk memotret subyek yang sangat dekat dengan kamera atau benda-benda kecil lainnya. Lensa makro dapat pula digunakan untuk memotret benda yang jauh, tetapi tingkat ketajamannya sedikit rendah dibandingkan dengan lensa jenis lain, biasanya lensa jenis ini digunakan untuk memotret bunga, koin, tetes embun, kancing, serangga dan benda-benda kecil lainnya. Baca lebih lanjut mengenai fotografi makro.
Selain 7 jenis lensa untuk kamera digital di atas, sebenarnya masih ada beberapa jenis lensa kamera dslr/slr misalnya jenis Lensa Fixed, lensa soft focus, lensa parfocal lens dll. Semoga artikel tentang daftar jenis lensa kamera dan kegunaannya ini bisa berguna untuk Anda yang lagi belajar fotografi.
Kozzi-hasselblad-lens-group-624 X 833
Seperti yang kamu mungkin sering dengar di televisi akhir-akhir ini; lensa adalah kekuatan kamera SLR. Ada banyak sekali jenis lensa di dunia fotografi dengan kegunaan, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing. Untuk kamu yang mungkin belum begitu paham, berikut daftarnya:
Fisheye: Tidak ada manfaat spesifik, kecuali memberikan efek mata ikan. Baca juga penjelasan lebih spesifiknya di artikel yang ini.
Ultra-wide rectilinear, lebih lebar dari 19mm: Biasanya untuk memotret interior, dengan ruang terbatas tapi dibutuhkan pandangan menyeluruh di dalam sebuah ruangan.
Ultra-wide-angle (19, 20, 21, atau 24mm): Satu dari empat atau lima lensa penting untuk profesional, sangat berguna untuk seniman dan pemula yang sudah mengenal dasar fotografi. Digunakan untuk landscape, interior, street photography, foto massa, dan sebagainya. Masih jarang orang menggunakan lensa ukuran ini untuk fotografi sehari-hari.
Ultra-wide-angle zoom (lebar ujungnya 20mm atau lebih lebar): Berguna jika seorang fotografer mau membawa sebuah lensa berat dan bukannya tiga yang lebih ringan, atau mereka yang menyukai efek flare. Kadang berpasangan dengan lensa zoom 80-200mm sebagai dua lensa penting profesional.
Wide angle: Sekarang lensa ukuran 24mm lebih sering digantikan oleh 20mm dan lensa 35mm telah menjadi focal length yang dianggap normal, sehingga diantara keduanya hadirlah focal length fixed yaitu 28mm. Berguna untuk melakukan pemotretan apapun (terutama untuk street photography, art, photojournalism, dan portret lingkungan) dimana tampilan lebar dibutuhkan.
Shift: Untuk memotret bangunan. Memperbaiki lengkungan pada garis yang diakibatkan oleh masalah perspektif.
Tilt shift: sama dengan lensa shift, sekarang biasanya digunakan untuk memberi efek miniatur, juga untuk memotret landscape dengan porsi foreground yang banyak.
Zoom 28-200mm untuk segala keperluan: jarang dipakai karena range focal-nya yang terlalu lebar sehingga tidak bisa menghasilkan foto yang kualitasnya baik.
Lensa fixed normal (35mm): Ini adalah focal length yang paling mudah digunakan untuk memotret, tapi seringkali digantikan oleh lensa zoom. Sering digunakan untuk street photography.
Normal/standard (50mm): Berguna untuk memotret jarak dekat. Bagus untuk belajar disiplin bagi mereka yang sudah terbiasa menggunakan lensa zoom. Jika digunakan oleh mereka yang ahli, bisa menghasilkan foto serupa wide angle juga telephoto.
Macro/micro: Untuk memotret bunga, serangga, bola mata, bulu mata, barang-barang kecil, sarang laba-laba yang dihiasi embun, dan semacamnya. Lensa hobi yang sangat populer, karena fotografer makro adalah salah satu tipe fotografer paling antusias yang seringnya memotret hal-hal menyenangkan.
Normal super cepat (f/2, f/1.2): Digunakan oleh mereka yang suka depth of field yang sangat terbatas. Biasanya untuk membuat portrait, juga untuk mereka yang suka bokeh.
Zoom standard (35-70mm, 28-105mm, 35-135mm, dsb.): Digunakan untuk memotret dibawah cahaya terang – biasanya snapshot, pemandangan, mobil, foto perjalanan, foto-foto underexposedm dan foto yang meledak karena flash dari kamera. Berguna untuk foto-foto yang sangat umum.
Lensa fixed 135mm: Jarang digunakan atau dimiliki. Umumnya hanya menjadi lensa standard 35mm jika digunakan pada kamera rangefinder.
Zoom medium cepat: Untuk profesional, ini adalah lensa sehari-hari. Untuk pemula, jarang digunakan. Sangat mahal, besar, dan berat tapi kualitasnya setara lensa fixed yang lebih murah.
Short tele (75, 77, 80, 85, 90, 100, atau 105mm): Untuk portrait, landscape ketat, foto wajah, beauty dan fashion. Biasanya kit lens yang datang bersama body camera juga dalah zoom standard seperti ini.
Lensa fixed lambat 180mm atau 200mm: Ringan dan mudah dibawa.
Telephoto zoom standard (70 atau 80 atau 180, 200, atau 210): Baik itu cepat atau lambar, lensa ini bagus untuk kebanyakan fotografer, pro maupun pemula. Digunakan untuk segala jenis action, aktivitas, fashion, portrait, foto wajah, reportase, olahraga, wildlife, landscape dan alam. Bisa mencakup range telephoto yang dibutuhkan kebanyakan fotografer – setidaknya sampai mereka mulai tertarik untuk memotret burung.
300mm cepat: Untuk fashion, katalog, fashion show, olahraga, alam, pertunjukan pesawat terbang. Lensa yang penting untuk profesional, juga untuk fotografer alam. Agak sulit digunakan oleh pemula kecuali untuk memotret serangga.
400mm: Serangga, olahraga, dan burung. Juga untuk memotret pertandingan sepak bola dengan fokus pada pemain secara individu.
500mm: Serangga dan burung.
600mm: Serangga.

Teknik Fotografi Di Pantai

Sunday, 17 August 2014
Posted by gumilar cahyadi
Tag :
Menikmati ombak dan pasir pantai. Lokasi : Pantai Ngliyep, Kamera : Lumix LX3

Menikmati ombak dan pasir pantai. Lokasi : Pantai Ngliyep, Kamera : Lumix LX3

Kali ini kami ingin menulis beberapa tips fotografi di daerah pantai, termasuk pulau dan laut. Ada istilah, “santai seperti di pantai, slow seperti di pulau” .. jadi kita bikin santai aja tulisan kali ini hehe. Seperti kita ketahui bahwa setiap daerah setiap obyek fotografi selalu memiliki ciri khas tertentu, maka teknik fotografi untuk obyek-obyek tersebut juga memiliki ciri khas sendiri-sendiri agar memperoleh hasil yang maksimal, termasuk teknik fotografi di pantai.

Kondisi Lokasi Pantai

Lokasi pantai umumnya ya terdapat pasir, ada air laut, biasanya ini yang menjadi obyek utama POI (point of interest) dalam fotografi pantai. Terus apa lagi ? Ada langit, ada awan, perahu dan sedikit pepohonan yang biasanya adalah pohon-pohon kelapa. Tapi dengan jumlah obyek yang itu-itu saja, ternyata banyak kreatifitas yang bisa kita gali disana, karena kombinasinya menjadi tak terbatas jika kita masukkan unsur waktu. Hunting foto waktu pagi, waktu siang atau waktu sore tentu akan berbeda, juga kecepatan shutter lambat atau cepat tertentu akan menghasilkan hasil yang masing-masing unik.
Amati lokasi hunting dan temukan obyek menarik. Obyek menarik tidak harus yang wah, kadang yang sederhana justru yang paling menarik. Tentu berbeda-beda cara pandang untuk setiap orang. Yang paling gampang misalnya ambil foto pasir putih pantai, laut berombak dan langit berawan. Ini adalah kombinasi standar foto di pantai. Di frame yang lain ikutkan batu karang, dermaga panjang, kayu tua mati atau pohon kelapa. Namanya hunting foto, mata harus melek dan jeli, seperti elang menangkap mangsa #halah.

Komposisi Di Pantai

Pantai adalah lokasi paling mudah belajar komposisi, mengapa ? Karena ada horizon laut. Sudah tahu kan aturan Rule of Third ? Horizon laut ini bisa kita gunakan sebagai penanda garis bawah atau garis atas dari batas-batas Rule of Third. Misalkan kita ambil komposisi 1/3 pantai, 1/3 laut dan 1/3  langit. Jika ada obyek lain misal perahu, bisa kita atur agar perahu tersebut terletak 1/3 frame dan menuju 2/3 frame lainnya sehingga foto seakan-akan bisa bercerita “perjalanan masih jauh”.
Selain itu di pantai pandangan bisa luas ke segala arah, tidak terdapat obyek-obyek yang membuat distract atau mengganggu komposisi yang akan kita ambil. Gampangnya bandingkan melakukan komposisi di pantai dengan di pasar dimana banyak obyek yang mengganggu. Tentu lebih mudah di pantai.
Nah ambil kesempatan ketika di pantai untuk memantapkan teknik komposisi. Ide lain adalah abaikan aturan Rule of Third dan langgar semua konsep komposisi dan berkreasi diluar pakem untuk melatih instinct dalam komposisi.
Contoh komposisi yang melanggar Rule of Third, porsi frame sebagian besar dipakai buat pasir berjejak. Lokasi : Pelabuna Ratu, Kamera : Lumix FZ20.
Contoh komposisi yang melanggar Rule of Third, porsi frame sebagian besar dipakai buat pasir berjejak. Lokasi : Pelabuna Ratu, Kamera : Lumix FZ20.

Pencahayaan Emas

Ada istilah “be early or be late”. Datang pagi-pagi sekali, atau sore aja sekalian asal jangan malam hari *lol*. Karena kondisi laut yang terbuka maka cahaya Matahari juga melimpah. Sehingga kalau terlalu siang akan sangat sulit mengatur pencahayaan. Paling mantap adalah menggunakan waktu-waktu yang disebut golden hour, yaitu dari mulai Matahari terbit hingga sebelum hari terlalu siang (kira-kira sebelum jam 08.00 pagi) dan juga saat sore yaitu sekitar pukul 16.00 hingga sebelum Matahari seluruhnya tenggelam.
Pada waktu-waktu itu, cahaya Matahari lebih lembut dan dramatis, langit juga masih bergradasi dari warna biru kuning dan memerah merupakan obyek yang menggiurkan bagi fotografer landscape. Perlu diperhatikan pada kondisi ini cahaya masih sangat minim sehingga lakukan setting eksposure dan metering dengan tepat agar tidak underexpose (foto cenderung gelap). Tidak perlu takut melakukan trial and error, jika terlalu gelap naikkan bukaan aperture misal dari f/11 menjadi f/8. Atau bisa juga naikkan ISO, tapi jangan terlalu tinggi karena bisa membuat foto banyak noise. Untuk shutter speed tidak ada patokan, tergantung tujuan foto. Kita jelaskan di bagian Moment.
Bagian paling sulit belajar fotografi adalah melakukan setting eksposure secara manual mulai dari shutter speed, aperture dan ISO. Sekali lagi jangan takut untuk mencoba, trial dan error sebanyak-banyaknya tanpa perlu takut kehabisan film hehehe. Untuk metering paling aman gunakan saja evaluative, kecuali  ingin mengambil foto siluet maka harus menggunakan spot metering.
Koleksi foto lama, contoh sudah menepati golden hour, tetapi tidak mendapatkan cahaya emasnya karena mendung. Lokasi : Pelabuhan Ratu, Kamera : Lumix FZ20.
Koleksi foto lama, contoh sudah menepati golden hour, tetapi tidak mendapatkan cahaya emasnya karena mendung. Lokasi : Pelabuhan Ratu, Kamera : Lumix FZ20.

Moment

Saya tidak akan mengatakan ini sebagai decisive moment karena ini bukan fotografi street. Moment yang dimaksud disini adalah kejadian yang akan kita ambil yang bisa membuat foto bercerita tanpa terlalu banyak kata. Saya ambil dua contoh moment yang sama sekali berbeda dari satu obyek yang sama. Ombak.
  1. Ombak yang menggetarkan. Ombak ini kita tangkap dalam foto untuk menunjukkan kekuatannya atau keganasannya. Ombak harus terlihat detail, otot-ototnya, bulir-bulir keringatnya seakan-mengancam pantai dan batu karang. Kita bisa ambil moment ombak ini dengan kecepatan shutter tinggi sehingga ombak menjadi freeze dan detailnya terlihat. Syarat shutter speed tinggi adalah cahaya cukup atau ISO cukup tinggi.
  2. Ombak Kapas. Ini istilah saya pribadi saja, saya tidak begitu hapal istilah umumnya. Intinya membuat ombak menjadi lembut, selembut helai-helai kapas. Caranya waktu harus pagi sekali, saat cahaya masih sedikit. Alat wajib adalah tripod, karena prosesnya adalah mengambil foto ombak dengan shutter speed lama, jadi akan memberi efek pada ombak menjadi seperti kapas putih karena blur, sementara obyek lainnya misal langit, pasir dan batu tetap tajam.
Moment lain yang bisa anda pikirkan adalah perahu dan matahari, burung camar dan ombak, nelayan melempar pancing, jejak pasir terhapus ombak dan lain sebagainya.
Ombak Kapas, diambil menggunakan tripod dengan shutter speed lambat. Lokasi : Tanjung Lesung, Kamera : Nikon D80
Ombak Kapas, diambil menggunakan tripod dengan shutter speed lambat. Kondisi sudah terlalu siang, jadi hasil tidak begitu maksimal. Lokasi : Tanjung Lesung, Kamera : Nikon D80

Filter

Saya pribadi terus terang jarang memakai filter. Tapi intinya disini filter berfungsi sebagai alat bantu saja. Tidak menjadi penentu foto akan menjadi lebih bagus, tetap faktor utamanya adalah kita. Filter yang digunakan antara lain ND Filter (Neutral Density) yang berfungsi untuk mengurangi banjir cahaya, cocok digunakan pada siang hari. Kemudian ada filter UV yang berguna selain untuk perlindungan lensa tetapi juga menyaring sinar ultraviolet dalam rentang tertentu. Hal ini dapat mengurangi kabut atmosfer yang sering muncul di laut, meski efeknya tidak begitukentara.
Terakhir adalah filter Polarizing (CPL), berfungsi untuk menyaring beberapa cahaya yang terpolarisasi . Intinya mengurangi refleksi dan meningkatkan kontras, biasanya efek utamanya adalah langit menjadi lebih biru, cenderung ke biru tua.
Welcome to Gumilar Blog

Popular Post

- Copyright © Gumilar Cahyadi -Robotic Notes- Powered by Gumilar cahyadi - Designed by Gumilar cahyadi -